21 August 2013
21 August 2013,
 2

Pelaksanaan & Syarat Domba Aqiqah

Apa itu Aqiqah? Apa hukumnya? Apa saja syarat Aqiqah?

Dewasa ini umat muslim di Indonesia yang melaksanakan ibadah Aqiqah semakin meningkat seiring tingkat ekonomi yang semakin baik serta, tingkat kesadaran umat akan pelaksanaan Aqiqah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah S.W.T. Namun, pertanyaan di atas masih sering dipertanyakan para umat islam, khususnya yang baru dikaruniai keturunan dari Allah S.W.T. bahkan ada yang tidak tahu sama sekali. Untuk itu penulis akan menjabarkan tentang arti, hukum, dan syarat-syarat dalam melaksanakan ibadah aqiqah.

Tentang Aqiqah

Kata Aqiqah berasal dari kata Al-Aqqu yang berarti memotong. Dalam pelaksanaan aqiqah disunnahkan memotong dua ekor kambing yang seimbang untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan sebagai rasa syukur kepada Allah atas karunia yang begitu besar dan membahagiakan bagi umatnya dengan member keturunan.

Ummi Kurz Al-Kabiyyah Ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bagi anak laki-laki dua ekor domba yang sama, sedangkan bagi anak perempuan satu ekor domba”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Hukum Aqiqah

Aqiqah dalam istilah agama adalah sembelihan untuk anak yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Pelaksanaan Aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hukum aqiqah itu sendiri menurut kalangan Syafii dan Hambali adalah sunnah muakkadah. Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dituntut untuk dilakukan.

 Nabi SAW.  bersabda, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

Namun, jika terlewat dan tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, maka dapat dilaksanakan pada hari ke-14, 21 atau kapan saja ia mampu. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana firman Allah SWT :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS.Al Baqarah:185)

Baik dalam Aqiqah maupun Qurban lebih diutamakan adalah hewan jantan agar kelangsungan reproduksi hewan tersebut tetap terjaga. Domba yang layak untuk dijadikan sembelihan aqiqah adalah kambing yang sehat, cukup umur, serta tidak ada cacatnya. Semakin besar dan gemuk tentu semakin baik. Hasil dari domba sembelihan dianjurkan dalam kondisi sudah dimasak. Daging yang sudah dimasak diberikan kepada fakir miskin, Anak yatim dan juga dicicipi keluarga dan tetangga terdekat.

Umur Domba, hingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama karena tidak ada Hadist yang Shahih tentang umur domba aqiqah. Kalangan ulama sepakat bahwa umur domba yang menjadi patokan untuk Aqiqah adalah domba yang telah berubah gigi susu nya menjadi gigi permanen (punglak) yang umumnya terjadi pada saat usia domba 1 tahun. Namun sebagian para ulama membolehkan domba yang umurnya dibawah 1 tahun jika tidak memungkinkan. Dalam hal ini tidak semua jenis domba akan punglak pada usia 1 tahun, tergantung jenisnya, ada yang 1,5 tahun dan adapula yang 7 bulan sudah berganti gigi. Mungkin perdebatan ini dikarenakan tingkat ekonomi yang berbeda di setiap Negara dan juga ragam jenis domba di belahan dunia. Di Indonesia sendiri banyak pelaksanaan aqiqah menyembelih domba yang belum cukup umur karena disesuaikan dengan kemampuan untuk membeli domba.

Saran

Setelah semua tentang Aqiqah diuraikan, penulis memberikan saran bagi sahabat muslim yang akan melaksanakan ibadah Aqiqah, yaitu:

  • Waktu Aqiqah, dilaksanakan lebih utama pada hari ke- 7 sebagaimana sunnah rasulullah S.A.W. ataupun bisa dilakukan pada hari kelipatannya yaitu hari ke 14, 21, dan seterusnya.
  •  Umur Domba, yaitu domba yang telah berubah gigi (punglak) agar tidak ada keraguan bagi kita tentang syarat yang menjadi perdebatan ini.
  • Domba Jantan, lebih diutamakan untuk palaksanaan Aqiqah untuk menjaga reproduksi hewan yang akan disembelih.
  • Daging Domba, dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan pada anak yatim, fakir miskin dan yang lainnya.
  • Kesempurnaan Ibadah, semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah S.W.T diutamakan dan diusahakan sesempurna mungkin karena Allah S.W.T tidak pernah berhenti memberikan nikmat yang berlimpah bagi umatnya.

Baca Juga : Jasa Aqiqah di Bandung


2 responses on “Syarat dan Hukum Aqiqah

  1. Aqiqah dalam istilah agama adalah sembelihan untuk anak yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

  2. […] yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Pelaksanaan Aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hukum aqiqah itu sendiri menurut […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *